Minggu, 24 Mei 2015

Kisah si "Aku"


Aku adalah aku, aku lahir dan besar dari keluarga sederhana, hidup sederhana, dan hidupku juga sederhana. Aku adalah aku, tak banyak yang mengerti tentang diriku sebenarnya. si "Introvert" yang kemudian berubah 180 derajat menjadi seorang yang "Ekstrovert". Si Pendiam yang berubah menjadi Si Bawel suka tertawa, dan suka Humor. Aku adalah aku, aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa berubah seperti ini. Aku juga sebenarnya bingung, aku si "Introvert, pendiam, dan cuek" atau aku si "Ekstrovert, cerewet, dan lucu (katanya) ".

Ini adalah kisah tentang aku.

Aku sudah bilang aku lahir dari keluarga sederhana, sederhana, sangat sederhana. rumah kontrakan yang berdiri dibelakang gedung walet, sangat kontras nampak tingginya. Rumah yang hanya beralaskan semen, yang saat kamu memasukinya, cukup untuk bisa melihat di mana kamar, di mana ruang tengah, dimana dapur dan kamar mandi. Rumah pertamaku, sebelum akhirnya rumah itu digusur dan kami pindah ke rumah baru kami. Masih sederhana, karena rumah ini baru dibangun dan masih dalam tahap renovasi. Setidaknya kami sudah memiliki rumah sendiri. 

Rumah ini yang menjadi warna dalam hidupku, karena kau tau, hampir sebagian besar waktuku kuhabiskan dirumah. aku bukan aku yang suka pergi bermain keluar bersama teman-teman. aku lebih suka bermain dirumah sendirian, menghabiskan waktu dengan menggambar, bermain bongkar pasang, atau membaca. kegiatan yang dari dulu aku sukai. Ibuku pernah bercerita, ktika aku sedang dirumah, dan teman-teman datang, memanggil mengajakku bermain aku hanya bilang "mau ngapain?" seketika teman ku hilang ntah kemana. 

Aku memiliki hal yang pada waktu itu orang-orang masih mengganggap hal yang aneh, tidak sewajarnya, pikiran orang tua, yang apabila punya anak seperti ini, akibat didikan yang salah, atau tidak diajari semasa kecilnya. Ntahlah, aku kadang berfikir ini salahku, salah orang tuaku kah? memikirkan kata-kata orang atau keanehanku ini yang membuatku tidak pernah percaya diri untuk membuktikan siapa aku! 

Aku ya aku si "Kidal" si kidal yang setiap aku menulis, orang-orang mengatakan, "kok nulisnya pakai tangan kiri? tangan kanan bisa ga?!" setiap mendengar itu, emosi ku memuncak. kadang aku ingin marah, berteriak (dalam hati), seandainya aku memiliki keberanian untuk itu. Alhasil, aku hanya duduk, menghentikan kegiatan menulisku, menutup buku, diam. Dalam hati aku menjerit, marah, kesal, dan ah sudahlah. Kau tau rasanya saat kau tidak bisa menulis tangan kanan, kemudian kamu di paksa menulis tangan kanan? itu seperti kamu menulis tangan kiri padahal kamu tidak bisa sama sekali menulis dengan tangan kiri. Tersiksa? ya!

Aku selalu tidak berani menulis di depan siapapun, bahkan aku berhenti menulis ketika guruku menghampiriki, karena aku malu, aku malas untuk ditanya, kenpa nulisnya dengan tangan kiri?. Hal lucu adalah keterpaksaanku untuk tidak dibilang kidal, memaksaku menulis menggunakan kapur dengan tangan kanan, dan akhirnya si kidal bisa menulis dengan tangan kanan, tapi hanya bisa dengan menggunakan kapur. Kau tau kadang ketrpaksaan, dan tekanan bisa membuat suatu keajaiban.

Aku tumbuh menjadi orang yang pemalu, karena aku merasa berbeda dari yang lain. Aku tak bisa bersosialisasi dengan baik. Akibatya aku jadi makanan empuk untuk di bully. Si penguasa yang selau diminta untuk dipanggil kakak. Si kecil ini mah apa atuh. Pernah suatu kali si Aku berlagak dengan santai mengumumkan pada teman sekelas, "Hei, aku bisa bernyanyi alfabet" dengan muka polos dan riang memberitahukan teman sekelas TK pada waktu itu. Ibu guru, menyaksikan adegan itu. Si "Aku" akhirnya mulai bernyanyi "A, B, C, D, E, F, G.." (baca dengan bahasa Inggris). Seketika tawa diruangan kelas pecah, satu kelas menertawakan Aku karena si Aku menyanyikan alfabet dengan bahasa inggris, yang pada saat itu anak-anak belum tau kalau itu adalah bahasa Inggris. 

Jadilah aku mengangis sejadi-jadinya, malu karena di tertawakan satu kelas, kejadian yang menyesakkan, yang sebenarnya aku tidak salah, aku hanya menyanyikan alfabet dengan versi yang berbeda. inilah keanehan, dimana perbedaan yang lain dari yang lain, menjadi hal yang aneh, menjadi hal yang tabu, menjadi hal yang pantas! untuk ditertawakan! yang sebenarnya itu belum tentu salah. hanya caranya saja yang berbeda, 

ini masih kisah tentang aku, ... 

Bersambung.